“Ayo, Falia. Mau ngaji nggak?” kataku sambil tersenyum.
“Sebentar, Pak. Dina saja dulu,” sahut gadis manis itu sambil tersenyum juga. Agak tersipu.
Ah, gadis ini tampak aneh belakangan ini. Selalu minta giliran terakhir, meskipun datangnya lebih awal daripada teman-temannya. Dina segera menyerahkan katu Qiroatil Quran-nya kepadaku dan membuka Al-Quran-nya. Kemudian aku mulai menyimak bacaan gadis kecil itu.
Sekarang tiba giliran Falia. Kuraih Al-Quran yang tadi dibaca Dina. Kucocokkan halaman dengan Al-Quran yang akan dibaca gadis itu. Setelah cocok, Falia mulai membaca dan aku menyimak dengan seksama. Memang berbeda caraku menyimak santri membaca Al-Quran. Kalau yang masih kecil seperti Dina, aku langsung melihat Al-Quran yang dibaca santri. Tapi untuk santri putri yang sudah baligh, aku menyimaknya dengan membuka Al-Quran sendiri, sedangkan santri juga membuka Al-Quran sendiri dan duduknya agak jauh dariku.
“Dina, cepetan keluar!” kudengar suara santri dari balik pintu ruang TPQ, agak berbisik, namun terdengar jelas di telingaku. Dina tampak agak ragu. Tapi sepertinya teman-temannya menyuruhnya agar ia segera keluar. Bahkan beberapa santri yang masih ada di dalam diwsuruh keluar semua. Dan kini tinggal aku berdua dengan Falia. Lalu kudengar bisik-bisik di luar dari santri-santri. Aku merasa tidak enak. Kulirik ke luar pintu. Tampak mereka sedang berbisik-bisik sambil melirikku. Aku terkesiap. Tiba-tiba wajahku terasa panas. Ya Allah, apa yang sedang terjadi? Aku baru sadar jika mereka memang membiarkan aku berdua dengan Falia. Sudah tiga hari keadaan seperti ini. Mulanya aku tidak begitu peduli dengan godaan beberapa santri putri yang sudah remaja tentang aku dan Falia. Tapi kini… tiba-tiba hatiku jadi panik. Keadaan yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam otakku.
Aku batasi hanya satu ruku’ saja untuk Falia sore ini. Gadis itu tampak tidak puas. Aku tidak peduli. Aku langsung berdiri, sementara gadis itu menutup Al-Qurannya.
“Masuk!” aku berteriak.
Santri-santri yang sedang asyik bermain-main segera berlarian masuk. Gaduh sekali.
“Satu!”aku mulai menghitung.
“Kaa-kii-nyaa!” semua santri menjawab serempak. Ini artinya kaki tidak boleh bergerak lagi dan duduk dengan rapi.
“Dua!”
“Taa-ngaan-nyaa!” ini berarti tangan tidak boleh usil.
“Tiga!”
“Kee-paa-laa-nyaa!” kalau yang ini artinya santri harus merapikan peci atau jilbabnya.
“Empat!”
“Suu-daah sii-aap!”
Santri-santri tampak duduk dengan tenang sambil memandangku. Nah, begini kan bagus! Tapi mungkin mereka sekarang tampak heran melihat ekspresi wajahku yang ‘tampak sadis’.
“Kalian yang sudah remaja, sekarang kok mulai nganeh-anehi?” kataku datar. Nyaris tanpa ekspresi. Tapi kurasa lebih cenderung ke nada marah.
Kulihat santri-santri putri yang sudah remaja menundukkan kepala, termasuk Falia. Mungkin juga mereka baru tahu kalau ternyata aku juga bisa marah. Biasanya aku selalu penuh senyum dan berbicara sopan. Tapi sore ini? Aku hanya diam dengan tampang angker sambil memandangi mereka. Suasana jadi hening.
“Berdoa!” seruku kemudian.
“Allohumma arinal haqqo haqqo…” Semua berdoa bersama. Setelah ditutup dengan salawat tiga kali, mereka berdiri dan menjabat tanganku sambil berjalan keluar, kecuali santri-santri putri yang sudah remaja. Mereka memang tak kuizinkan berjabatan tangan denganku. Selain karena memang hukum agama yang mengharuskan demikian, juga sekedar upayaku agar aku tidak berbuat kurang ajar terhadap santri putri. Aku sudah menganggap mereka adik-adikku sendiri. Aku menghormati dan menyayangi mereka.
Kupandangi mereka meninggalkan masjid. Santri-santri yang masih anak-anak berjalan pulang sambil bercanda. Tapi santri putri yang sudah remaja berjalan dengan diam. Hanyha kadang-kadang kulihat mereka saling berbisik. Falia yang berjalan sendirian di belakang tampak menunduk sambil mendekap Al-Quran di dadanya. Maafkan saya, gadis! kataku dalam hati.
